Dari Cahaya Ilmu Menuju Riuh Hura-Hura.
Refleksi Arah Peradaban Umat di Awal Islam dan Zaman Kini
(Bagian 1 dari 3 tulisan)
Islam hadir di tengah dunia yang gelap bukan dengan gemerlap perayaan, bukan dengan pesta pergantian waktu, dan bukan pula dengan hura-hura kebudayaan. Islam datang membawa cahaya ilmu, kesadaran, dan perubahan cara pandang terhadap kehidupan.
Ayat pertama yang turun bukan seruan untuk bersenang-senang, melainkan perintah membaca:
ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ ١
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dari satu kata itu Iqra, lahir sebuah peradaban besar yang jejaknya masih terasa hingga hari ini. Peradaban yang dibangun bukan di atas euforia sesaat, tetapi di atas kesungguhan menuntut ilmu, menjaga adab, dan memaknai waktu.
Ilmu sebagai Fondasi Peradaban
Generasi awal Islam memahami bahwa kebangkitan umat tidak ditentukan oleh seberapa sering mereka berpesta, tetapi oleh seberapa dalam mereka berpikir dan belajar. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat ilmu. Rumah-rumah sahabat menjadi ruang diskusi. Pena dan kertas menjadi alat perubahan.
Dari kesadaran itulah lahir ulama, ilmuwan, dan pemikir yang tidak hanya berbicara tentang agama, tetapi juga tentang matematika, kedokteran, astronomi, sejarah, dan filsafat. Dunia mengenal Baghdad, Cordoba, dan Kairo bukan karena pesta tahunan, melainkan karena tradisi keilmuan yang hidup.
Islam membentuk generasi yang menghormati waktu. Malam digunakan untuk munajat dan belajar, siang untuk bekerja dan mengajar. Tidak ada waktu yang dianggap remeh, karena setiap detik dipahami sebagai amanah.
Ketika Waktu Tak Lagi Dimuliakan
Berabad-abad kemudian, kita hidup di zaman yang sangat berbeda. Teknologi semakin maju, akses ilmu terbuka lebar, dan informasi berada di ujung jari. Namun bersamaan dengan itu, muncul satu gejala yang patut direnungkan : waktu semakin mudah disia-siakan.
Di tengah kemajuan, energi umat sering kali terkuras pada hal-hal yang bersifat seremonial dan hiburan. Pergantian waktu dirayakan dengan begadang, pesta, dan euforia yang kerap kehilangan makna. Semua dibungkus dengan alasan kegembiraan, hiburan, atau sekadar mengikuti arus.
Padahal, jika kita menoleh ke belakang, peradaban Islam tidak pernah dibangun dengan cara demikian.
Perbedaan yang Perlu Disadari
Tulisan ini bukan untuk menuduh atau menghakimi. Ia hanya mengajak merenung: apakah arah hidup kita masih sejalan dengan ruh peradaban Islam yang lahir dari ilmu?
Islam tidak memusuhi kegembiraan. Namun Islam mengajarkan bahwa kegembiraan pun memiliki adab dan tujuan. Bukan semua yang menyenangkan layak dirayakan, dan bukan semua yang ramai membawa kebaikan.
Generasi awal Islam tidak menunggu pergantian tahun untuk berubah. Mereka memperbaiki diri setiap hari, karena setiap hari adalah kesempatan untuk mendekat kepada Allah dan memperbaiki kualitas hidup.
Menata Ulang Cara Pandang
Mungkin yang perlu kita lakukan hari ini bukan menambah alasan untuk bersenang-senang, tetapi menata ulang cara pandang terhadap waktu dan ilmu. Bertanya pada diri sendiri: sudahkah hari-hari kita diisi dengan hal yang mendekatkan pada kualitas diri yang lebih baik?
Jika dahulu Islam bangkit karena ilmu dijadikan identitas, maka kemunduran umat hari ini patut direnungkan : apakah karena kita kekurangan fasilitas, atau karena kehilangan keseriusan terhadap ilmu dan adab ?
Islam datang untuk membangun peradaban, bukan sekadar meramaikan zaman. Ia mengajarkan umatnya untuk berpikir sebelum ikut arus, merenung sebelum merayakan, dan menimbang sebelum membenarkan.
Tulisan ini adalah undangan untuk berhenti sejenak, melihat ke belakang, lalu menatap ke depan dengan lebih sadar. Karena peradaban tidak runtuh dalam sehari, dan kebangkitan pun selalu dimulai dari kesadaran kecil yang konsisten.
Namun, refleksi tentang ilmu dan waktu ini belum selesai. Sebab, sering kali pembenaran terhadap berbagai perayaan dan hura-hura tidak datang dalam bentuk penolakan nilai agama, melainkan dibungkus dengan istilah yang terdengar aman : budaya, hiburan, dan sekadar kegembiraan.
Di sinilah persoalan menjadi lebih kompleks. Apakah benar budaya selalu netral? Apakah semua bentuk kegembiraan bebas dari nilai? Dan benarkah sesuatu yang dianggap “sekadar tradisi” tidak memengaruhi arah berpikir dan cara hidup umat?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang perlu kita bahas dengan jernih, tanpa emosi dan tanpa saling menyalahkan. Sebab, sering kali masalah umat bukan terletak pada niat, tetapi pada cara memahami dan memaknai.
Pada tulisan berikutnya, kita akan mencoba menelusuri lebih jauh hubungan antara budaya, kegembiraan, dan nilai—serta mengapa Islam sejak awal begitu berhati-hati dalam menyikapi sesuatu yang tampak remeh, tetapi sesungguhnya membentuk cara pandang.
Bersambung…

Posting Komentar untuk "Dari Cahaya Ilmu Menuju Riuh Hura-Hura. Refleksi Arah Peradaban Umat di Awal Islam dan Zaman Kini"