Ada masa ketika
suara tak lagi didengar.
Bukan karena pesan itu salah,
tetapi karena dunia terlalu bising oleh kepentingan dan emosi. Pada saat
seperti itulah, Islam menawarkan jalan yang sunyi namun kuat : menulis.
Al-Qur’an sejak awal telah
memuliakan aktivitas ini. Wahyu pertama tidak datang dengan perintah berteriak
di hadapan manusia, melainkan perintah membaca
dan isyarat untuk menulis.
Pena dalam Wahyu Pertama
Allah berfirman :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan…
Yang mengajar manusia dengan pena,
mengajarkan apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq:
1–5)
Ayat ini bukan sekadar
pengantar kenabian, tetapi fondasi peradaban. Pena disebut sebagai alat
pengajaran. Artinya, menulis adalah sarana transformasi ilmu, iman, dan
kesadaran.
Dalam konteks dakwah hari ini,
tulisan baik di buku, blog, atau catatan digital adalah perpanjangan dari pena
yang dimuliakan Allah.
Allah Bersumpah
atas Tulisan
Lebih jauh, Al-Qur’an bahkan mencatat sumpah Ilahi :
“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam : 1)
Sumpah ini menandakan kemuliaan. Allah tidak bersumpah
atas sesuatu yang remeh. Tulisan yang lahir dari niat lurus, kejujuran, dan
keberpihakan pada kebenaran memiliki nilai di sisi-Nya, meski tidak ramai
dibaca manusia.
Tidak semua dakwah harus
terdengar keras. Sebagian cukup dibaca
perlahan, lalu menetap lama di hati.
Menulis sebagai
Metode Dakwah yang Berhikmah
Allah mengajarkan metode dakwah yang halus namun mendalam
:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Hikmah menuntut ketepatan
kata, kedewasaan emosi, dan kejujuran nurani. Menulis memberi ruang untuk itu
semua. Ia tidak tergesa, tidak reaktif, dan tidak memaksa.
Banyak orang tersentuh bukan oleh suara lantang, tetapi
oleh tulisan yang jujur dan manusiawi.
Jurnalistik dalam Al-Qur’an : Amanah Pena
Dalam kajian jurnalistik dalam
Al-Qur’an, menulis dipandang sebagai amanah
dan kesaksian. Beberapa prinsip dasarnya antara lain :
Tabayyun >>> (QS. Al-Hujurat : 6) : verifikasi sebelum
menyebarkan informasi.
Qaulan sadida >>> (QS. Al-Ahzab : 70) : berkata
dan menulis dengan lurus dan bertanggung jawab.
Menjaga kebenaran, bukan sensasi : tulisan bukan alat
dendam, tapi sarana pencerahan.
Dengan demikian, menulis dalam
perspektif Islam bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan tindakan moral
dan ibadah sosial.
Dakwah yang Tidak Terbatas Waktu
Lisan terikat ruang dan waktu.
Tulisan tidak. Ia bisa dibaca ulang, diwariskan, bahkan dimengerti oleh
generasi yang tak pernah bertemu penulisnya.
Banyak kebenaran dalam sejarah
Islam bertahan bukan karena pidato, tetapi karena teks yang jujur dan konsisten.
Ketika Tak Ada yang Mendengar
Jika hari ini tulisan kita
sepi, jangan buru-buru kecewa. Tidak semua benih tumbuh cepat. Sebagian menunggu
musim yang tepat. Sebagaimana semangat dakwah para ulama seperti Buya Hamka dan
Mohammad Natsir : Ketika Suara Tak Lagi
Didengar, Pena Tetap Bisa Berbicara.
Catatan Petang di Akhir Pekan
@abunabil
Posting Komentar untuk "Ketika Pena Menjadi Jalan Sunyi Menuju Kebenaran "