Masa ketika Pancasila tidak berdiri sebagai slogan.
Ia tidak hanya diucapkan saat upacara, tetapi dirasakan dalam laku hidup.
Sejak bangku sekolah dasar, sekitar tahun 1987, hingga SMP dan SLTA, Pancasila hadir sebagai nilai yang ditanamkan perlahan, berulang, dan serius.
Pada masa itu, saya merasakan sesuatu yang kini terasa langka :
Pancasila dan agama berjalan seiring, bukan saling mencurigai.
Sebagai seorang muslim, saya melihat dengan jernih bahwa apa yang diajarkan Pancasila tentang budi pekerti luhur, adab bertutur, hormat kepada orang tua, kejujuran, dan tanggung jawab adalah nilai yang juga diajarkan agama. Islam tidak merasa terancam oleh Pancasila. Pancasila pun tidak memusuhi agama. Keduanya saling menguatkan, saling menjaga.
Ketika Nilai Dititipkan, Lalu Dilupakan
Di masa itu, nilai Pancasila tidak dibiarkan tumbuh liar. Ia dituntun melalui Penataran P4, dari SLTP hingga perguruan tinggi. Barangkali metodenya terasa kaku jika diingat hari ini, tetapi ia memiliki satu kelebihan besar: nilai ditanamkan dengan kesungguhan.
Kini, jarak antara nilai dan perilaku terasa semakin jauh.
Anak-anak kita tumbuh dengan kecerdasan teknologi, tetapi miskin adab. Cara bertutur mengeras, rasa hormat menipis, dan kepekaan nurani semakin tumpul.
Lebih menyakitkan lagi, sebagian dari mereka yang sejak awal kurang berakar pada nilai agama dan Pancasila justru dipercaya memegang posisi vital menjadi pendidik, menjadi pejabat, menjadi penentu arah. Di sanalah, menurut saya, retak peradaban mulai melebar: ketika amanah dipegang tanpa nilai.
Rumah yang "Kosong", Sekolah yang Disalahkan
Kesalahan ini tidak lahir sendirian. Ia tumbuh subur ketika orang tua menyerahkan sepenuhnya pembentukan karakter kepada sekolah. Seakan-akan akhlak bisa dicetak oleh kurikulum, bukan oleh teladan.
Padahal dalam Islam, anak adalah amanah Allah, bukan titipan negara, bukan milik sekolah semata. Ia pertama-tama dibentuk oleh apa yang ia lihat di rumah, bukan oleh apa yang ia dengar di kelas.
Kita sering lupa:
anak belajar lebih cepat dari contoh dibanding dari nasihat.
Kita menyuruh mereka shalat, tetapi kita sendiri menunda.
Kita menyuruh mereka disiplin, tetapi kita malas berbenah.
Kita menuntut mereka rapi, sementara kita abai pada diri sendiri.
Di situlah pendidikan kehilangan wibawanya.
Karena teladan yang retak tidak akan melahirkan karakter yang utuh.
Kurikulum Boleh Dikritik, Tapi Jangan Dijadikan Kambing Hitam
Saya percaya, kurikulum pendidikan hari ini bukan sepenuhnya salah. Ia mungkin memiliki celah, tetapi bukan sumber utama kehancuran. Yang paling menentukan tetaplah manusia di dalamnya para pendidik dan para orang tua.
Pendidik dituntut bukan hanya mengajar, tetapi menjadi rujukan moral.
Orang tua dituntut bukan hanya menafkahi, tetapi menghidupkan nilai di rumah.
Anak-anak tidak bisa terus disalahkan, sebab mereka adalah hasil dari proses panjang yang kita bangunatau kita abaikan bersama.
Berhenti Mengutuk Zaman, Mulailah Menata Diri
Allah telah mengingatkan dengan sangat jujur:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ayat ini menampar kesadaran kita.
Bahwa perubahan tidak dimulai dari kurikulum, bukan dari anak-anak, bukan dari zaman melainkan dari keberanian kita mengakui kesalahan sendiri.
Sudah waktunya berhenti mengutuk generasi.
Sudah waktunya berhenti merindukan masa lalu tanpa memperbaiki hari ini.
Sudah waktunya menata diri, agar dari rumah-rumah yang sederhana lahir generasi yang beradab—menjadi harapan bangsa sekaligus agama.
Doa untuk Para Guru: Mereka yang Pernah Menanamkan Nilai
Tulisan ini adalah bentuk terima kasih saya kepada para guru yang telah mendidik saya:
Guru-guru SD 032 Tebing Tinggi, (saat ini SDN 004)
MDA Babussalam Kenegerian Simandolak di Tebing Tinggi (1989)
SMPN Benai IV Koto, (Sekarang SMPN 1 Benai)
dan SMKN 1 Kuantan Tengah.(Sekarang SMKN1 Teluk Kuantan)
Semoga yang masih ada diberikan kesehatan dan keteguhan,
dan yang telah mendahului kita diberi ampunan, kelapangan kubur, serta pahala jariyah dari ilmu yang pernah ditanamkan.
Juga kepada para dosen di STIT Bustanul Ulum Lampung, semoga Allah memudahkan langkah bapak dan ibu dalam menjaga cahaya ilmu di tengah zaman yang sering gelap arah.
Balasan Allah lebih dari cukup untuk semua jasa itu. Amin.
Abunabil
Posting Komentar untuk "Pancasila, Agama, dan Anak-anak Kita Hari Ini"