Muhasabah Jumat : Buah Ilmu Tidak Selalu Berdiri di Atas Panggung
Hari Jumat selalu menghadirkan ruang untuk merenung. Di tengah kesibukan dunia, Allah memberi kesempatan kepada kita untuk melihat kembali perjalanan hidup yang telah dilalui, menghitung nikmat yang telah diberikan, sekaligus mengingat orang-orang yang menjadi sebab sampainya kebaikan kepada diri kita.
Pagi ini saya teringat perjalanan panjang bersama Al-Qur'an.
Sekitar tahun 2018, saya mulai diminta membantu mengajarkan Al-Qur'an kepada anak-anak di masjid dekat rumah. Seiring waktu, saya juga dipercaya menjadi imam ketika diperlukan. Hingga hari ini, amanah itu masih terus saya jalani dengan segala keterbatasan yang saya miliki.
Saya bukan juara MTQ. Saya juga tidak pernah mengejar kedudukan sebagai dewan hakim atau ingin dikenal sebagai ahli qira'ah. Saya hanyalah seorang yang berusaha menyampaikan apa yang pernah diajarkan oleh guru-guru saya, semampu yang saya bisa.
Namun dalam perjalanan itu, Allah menunjukkan bahwa buah dari sebuah pengabdian tidak selalu terlihat dalam bentuk piala, sertifikat, atau jabatan.
Kebahagiaan seorang guru sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana. Melihat anak-anak yang dahulu terbata-bata membaca Al-Qur'an, kemudian tumbuh menjadi generasi yang mampu membaca dengan baik, memahami tajwid, menjaga hafalan, bahkan melanjutkan pendidikan Islam ke jenjang yang lebih tinggi.
Alhamdulillah, saya merasakan nikmat itu melalui anak-anak saya sendiri. Dengan pertolongan Allah, kemudian dukungan pendidikan di sekolah Islam dan para guru mereka, bacaan Al-Qur'an mereka mendapat penilaian yang baik ketika melanjutkan pendidikan ke pesantren. Saya juga melihat beberapa keponakan yang dahulu belajar bersama di masjid tetap mampu mempertahankan kualitas bacaannya hingga dewasa. Bahkan ada yang pernah berkata kepada saya bahwa pelajaran yang mereka dapatkan di pondok ternyata selaras dengan apa yang dahulu diajarkan ketika belajar di masjid.
Saat mendengar hal seperti itu, hati saya tidak merasa bangga kepada diri sendiri. Justru yang muncul adalah rasa syukur kepada Allah. Sebab saya sadar, ilmu yang mereka rasakan manfaatnya hari ini bukan berasal dari saya semata. Saya hanyalah salah satu mata rantai kecil dari perjalanan ilmu yang panjang.
Pada kesempatan ini, saya juga teringat kepada kedua orang tua saya dan para guru yang telah membimbing saya sejak kecil. Merekalah yang mengenalkan saya kepada Al-Qur'an, mengajarkan adab sebelum ilmu, serta menanamkan kecintaan kepada agama.
Secara khusus, saya juga teringat kepada seorang guru yang sangat berjasa dalam perjalanan saya memperbaiki bacaan Al-Qur'an.
Beliau bukan guru saya di bangku sekolah atau pesantren. Saya belajar kepada beliau melalui halaqah dan majelis-majelis Al-Qur'an di masjid. Kurang lebih selama satu tahun lebih, saya berpindah dari masjid ke masjid untuk mengikuti bimbingan beliau. Kami berasal dari kampung yang sama dan sudah saling mengenal sejak lama. Hingga hari ini, beliau masih sehat dan terus mengabdikan diri sebagai mudir sebuah pondok pesantren.
Melalui beliaulah saya mendapatkan banyak pelajaran tentang tahsin Al-Qur'an yang sebelumnya belum saya pahami secara mendalam. Saya menyadari bahwa guru-guru terdahulu telah mengajarkan Al-Qur'an dengan penuh keikhlasan sesuai ilmu dan kondisi zamannya. Kemudian Allah mempertemukan saya dengan guru yang membantu menyempurnakan pemahaman tersebut, sehingga saya dapat mengenal bacaan Al-Qur'an dengan lebih baik, lebih teliti, dan lebih bertanggung jawab.
Karena itu, jika hari ini ada sedikit manfaat yang dapat saya berikan kepada anak-anak, keluarga, dan masyarakat dalam pengajaran Al-Qur'an, maka setelah karunia Allah, di sana ada jasa kedua orang tua saya, jasa guru-guru saya terdahulu, dan jasa guru yang telah membimbing saya memperbaiki bacaan Al-Qur'an.
Apa yang benar dalam bacaan saya hari ini adalah hasil didikan para guru saya. Adapun apa yang masih salah, itu adalah kekurangan diri saya sendiri yang masih terus belajar dan memperbaiki diri.
Dalam perjalanan mengajar, terkadang kita mendengar penilaian yang beragam. Ada yang mengukur keberhasilan seseorang dari gelar, penghargaan, kemenangan perlombaan, atau jabatan yang pernah diraih. Namun para ulama mengajarkan bahwa keberkahan ilmu tidak selalu berdiri di atas panggung.
Ada guru yang dikenal karena prestasinya. Ada pula guru yang tidak banyak dikenal manusia, tetapi Allah jadikan ilmunya hidup dalam hati murid-muridnya. Ada yang namanya sering disebut orang banyak, dan ada yang amalnya terus mengalir meskipun tidak pernah diberitakan.
Bukankah tujuan ilmu bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama?
Karena itu, pada hari Jumat yang penuh keberkahan ini, saya tidak sedang menghitung apa yang telah saya ajarkan kepada orang lain. Saya justru sedang mengenang siapa saja yang telah mengajarkan saya hingga mampu berdiri pada titik ini.
Ya Allah, ampunilah dosa kedua orang tua kami. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami ketika kecil.
Ya Allah, muliakan guru-guru kami. Ampunilah mereka yang telah wafat, sehatkan dan berkahilah mereka yang masih hidup. Jadikan setiap huruf Al-Qur'an yang mereka ajarkan sebagai amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.
Ya Allah, khususkanlah keberkahan-Mu kepada guru-guru yang telah membimbing kami memahami Al-Qur'an. Panjangkan umur mereka dalam ketaatan, sehatkan jasad mereka, lapangkan rezeki mereka, berkahilah keluarga dan lembaga pendidikan yang mereka bina, serta jadikan kami murid-murid yang mampu menjaga amanah ilmu yang telah mereka wariskan.
Ya Allah, jauhkan kami dari kesombongan ilmu, dari keinginan untuk dipuji manusia, dan dari kebiasaan meremehkan pengabdian orang lain. Jadikan kami hamba yang lebih sibuk memperbaiki diri daripada mencari kekurangan saudara kami.
Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukanlah berapa banyak penghargaan yang pernah kita raih, melainkan berapa banyak manfaat yang telah kita tinggalkan.
Selamat menikmati keberkahan hari Jumat.
Semoga Allah menjadikan kita semua bagian dari mata rantai kebaikan yang terus mengalir, dari guru kepada murid, dari murid kepada generasi berikutnya, hingga menjadi amal yang tetap hidup meskipun kelak nama kita telah lama dilupakan.
Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
(Redaksi Tinta Peradaban)
Posting Komentar untuk "Buah Ilmu Tidak Selalu Berdiri di Atas Panggung"