![]() |
| Gambar hanya ilustrasi |
Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan arah yang berbeda.
Alih-alih sederhana dan bermakna, sebagian acara perpisahan kini berubah menjadi ajang kemewahan. Di berbagai media sosial, beredar dokumentasi acara sekolah dengan panggung megah, spanduk besar bertopang rangka besi, penggunaan sound system skala besar, hingga dokumentasi menggunakan drone. Semua ini tentu bukan tanpa biaya—dan tidak sedikit.
Pertanyaannya sederhana: untuk siapa semua ini?
Lebih memprihatinkan lagi, muncul tren yang dikenal di kalangan pelajar sebagai “siram-siraman kelulusan” bahkan ada yang menggunakan mobil pemadam kebakaran untuk menyemprotkan air kepada para siswa hingga basah kuyup. Dalam kondisi tersebut, tidak sedikit yang auratnya menjadi tampak.
Dalam ajaran Islam, menjaga kehormatan dan menutup aurat adalah kewajiban. Allah ﷻ berfirman:
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya… dan katakanlah kepada perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya serta tidak menampakkan perhiasannya (auratnya)…" (QS. An-Nur: 30–31)
Ketika hal-hal yang seharusnya dijaga justru dipertontonkan dan disebarluaskan, maka ini bukan lagi sekadar hiburan, tetapi sudah menyentuh ranah pelanggaran nilai dan adab.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
"Setiap umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat maksiat."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menjadi peringatan bahwa sesuatu yang dilakukan secara terbuka dan disebarluaskan, justru memiliki dampak yang lebih besar, baik bagi pelaku maupun bagi yang menyaksikan.
Sekolah seharusnya menjadi tempat menanamkan nilai kesederhanaan, adab, dan tanggung jawab. Namun jika yang ditampilkan justru kemewahan, hura-hura, dan kelalaian terhadap batasan moral, maka pesan apa yang sebenarnya sedang disampaikan kepada para siswa?
Apakah pihak sekolah tidak mengetahui?
Rasanya sulit untuk mengatakan tidak. Setiap acara besar pasti melalui proses perencanaan. Sebagaimana hujan yang turun diawali tanda-tanda seperti angin dan mendung, demikian pula kegiatan ini pasti melalui persiapan yang panjang. Artinya, ada peran, ada persetujuan, dan ada tanggung jawab yang seharusnya diemban bersama.
Dalam konteks ini, kritik bukanlah bentuk kebencian, melainkan kepedulian.
Allah ﷻ berfirman:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. Al-‘Asr: 1–3)
Sebagai masyarakat, kita memiliki tanggung jawab moral untuk saling mengingatkan watawāṣau bil-ḥaqq. Kritik yang disampaikan bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk meluruskan. Bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menyadarkan.
Maka pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama:
Apakah kita sudah tidak siap menerima kritik?
Apakah kita alergi terhadap nasihat?
Apakah demi kemajuan, kita rela mengorbankan adab dan akhlak?
Ataukah atas nama kebebasan, kita justru kembali pada pola hidup tanpa batas seperti masa jahiliyah—yang miskin nilai dan arah?
Pendidikan sejati bukan hanya tentang kelulusan, tetapi tentang pembentukan karakter. Bukan tentang kemeriahan sesaat, tetapi tentang nilai yang tertanam seumur hidup.
Dan di momen Hari Pendidikan Nasional ini, sudah saatnya kita kembali meluruskan arah.
Bahwa pendidikan bukan tentang seberapa meriah perpisahan, tetapi seberapa kuat nilai yang tertanam dalam diri generasi.
Redaksi

Posting Komentar untuk "Euforia Perpisahan Sekolah: Antara Prestise dan Hilangnya Nilai Pendidikan"