Liburan Idul Fitri yang Kehilangan Makna

Setiap tahun, kita menyambut Idul Fitri dengan penuh harap: kembali suci, kembali ke fitrah. Namun, tanpa sadar, ada sesuatu yang perlahan bergeser dari makna itu sendiri.

Jalanan penuh sesak. Kendaraan mengular panjang. Klakson bersahutan. Wajah-wajah tegang, emosi mudah tersulut. Perjalanan yang katanya untuk silaturrahmi, justru sering diwarnai amarah dan kelelahan. Waktu habis di jalan, biaya terkuras, tenaga terkikis—semua demi sebuah “tradisi” yang kadang tak lagi kita pahami maknanya.

Kita berkata ini demi keluarga. Demi menjaga hubungan. Tapi jika jujur, di antara itu semua, terselip hal-hal yang tak kasat mata: keinginan untuk dilihat, untuk diakui, untuk dibandingkan.

Ketika akhirnya sampai di kampung halaman, berkumpul bersama keluarga besar, obrolan pun mengalir. Namun sayang, seringkali yang menjadi pusat pembicaraan bukan lagi tentang kehangatan hati atau kedekatan ruhani.

Yang muncul justru:

obrolan tentang gaji dan jabatan, siapa yang sudah jadi ASN atau P3K,

cerita usaha siapa yang paling berkembang, motor baru, mobil baru, rumah baru,

anak siapa yang masuk sekolah favorit, kampus ternama, atau hafal sekian juz,

pamer pencapaian lomba, sertifikat, hingga postingan media sosial yang sengaja diperlihatkan,

bahkan tak jarang diselipkan perbandingan halus, yang satu merasa lebih, yang lain diam-diam merasa kurang.

Semuanya dibungkus dalam cerita ringan, tapi sarat makna: ingin diakui, ingin terlihat berhasil, ingin dipandang “lebih” di hadapan keluarga.


Padahal, Idul Fitri bukan tentang itu.

Idul Fitri adalah tentang kembali. Kembali menjadi hamba yang tunduk. Kembali kepada hati yang bersih. Kembali kepada kesederhanaan yang jujur di hadapan Allah.

Hari-hari Syawal pun berlalu. Tamu-tamu pulang. Saudara kembali ke tempat masing-masing. Anak-anak kembali ke sekolah, ke pondok, ke rutinitasnya. Rumah yang kemarin ramai, kini kembali sunyi.

Dan kita pun kembali… sendiri.

Di titik itu, seringkali terasa: semua hiruk pikuk itu seakan hampa. Yang tersisa hanyalah diri kita, amal kita, dan hubungan kita dengan Allah.

Maka di bulan Syawal ini, marilah kita benar-benar kembali ke fitrah—fitrah yang bukan hanya dirayakan sehari, tetapi dijaga sepanjang tahun.

Fitrah yang berarti:

tidak mengulang dosa yang sama,

tidak kembali pada kebiasaan lama yang menjauhkan dari Allah,

dan tidak menjadikan dunia sebagai ukuran utama kebahagiaan.

Karena pada akhirnya, bukan siapa yang paling sukses di mata manusia yang akan kita pertanggungjawabkan. Tapi siapa kita di hadapan Allah.

Semoga Idul Fitri kita bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi menjadi titik perubahan yang nyata. Bukan hanya ramai di luar, tapi juga hidup di dalam hati.

Posting Komentar untuk "Liburan Idul Fitri yang Kehilangan Makna"