![]() |
Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah seminar yang diisi oleh Ustadz Fahruddin Faiz, seorang dosen filsafa
t di UIN Sunan Kalijaga sekaligus penulis yang dikenal luas karena kemampuannya menjembatani filsafat, agama, dan realitas kehidupan. Dalam salah satu penguraiannya, beliau menyinggung fenomena post-truth, sebuah istilah yang terasa sangat relevan dengan kondisi masyarakat hari ini, khususnya generasi terkini.
Fenomena ini bukan sekadar istilah akademik, melainkan sebuah kenyataan sosial yang sedang kita hidupi bersama.
Apa Itu Era Post-Truth?
Era post-truth adalah keadaan di mana kebenaran objektif kalah pengaruhnya dibandingkan emosi, opini pribadi, dan keyakinan kelompok. Fakta tidak lagi menjadi fondasi utama dalam berpikir dan mengambil sikap. Yang lebih dominan justru perasaan: marah, takut, bangga, atau merasa paling benar.
Di era ini, sesuatu dianggap benar bukan karena terbukti, tetapi karena:
Sesuai dengan apa yang ingin kita percayai
Dikatakan oleh tokoh yang kita kagumi
Viral dan dibenarkan oleh kelompok kita
Kerusakan Cara Pandang Generasi Terkini
Salah satu dampak paling serius dari era post-truth adalah rusaknya cara pandang (worldview) generasi masa kini. Kerusakan ini terlihat dalam beberapa hal:
1. Literasi yang Dangkal
Banyak yang membaca, tetapi sedikit yang memahami. Judul dianggap isi. Potongan video dianggap kebenaran utuh. Akibatnya, generasi mudah digiring tanpa sempat berpikir jernih.
2. Emosi Menggantikan Nalar
Marah lebih cepat daripada berpikir. Membenci lebih mudah daripada memahami. Diskusi berubah menjadi perdebatan, dan perbedaan dianggap ancaman.
3. Hilangnya Adab dalam Mencari Kebenaran
Dalam tradisi ilmu—baik agama maupun filsafat—kebenaran dicari dengan kerendahan hati. Namun di era post-truth, yang terjadi justru sebaliknya: merasa paling benar, paling suci, dan paling tahu.
Post-Truth dalam Bingkai Agama
Islam sejak awal telah memberi peringatan keras terhadap budaya menerima informasi tanpa verifikasi. Al-Qur’an menegaskan:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa tabayyun (klarifikasi) adalah fondasi etika informasi. Sayangnya, prinsip ini sering diabaikan. Banyak orang rajin beribadah, tetapi lalai menjaga kebenaran lisan dan tulisan.
Filsafat, Agama, dan Tanggung Jawab Berpikir
Sebagaimana sering disampaikan oleh Ustadz Fahruddin Faiz dalam berbagai forum, filsafat bukanlah musuh agama. Filsafat justru melatih manusia untuk:
Bertanya dengan jujur
Berpikir secara mendalam
Tidak mudah terjebak pada kesimpulan dangkal
Dalam konteks post-truth, filsafat dan agama seharusnya bersatu untuk menghidupkan kembali etika berpikir.
Muhasabah untuk Kita Semua
Era post-truth bukan hanya kesalahan generasi muda. Ia adalah cermin kegagalan kolektif:
Orang tua yang berhenti membaca
Tokoh yang memelihara kebencian
Media yang mengejar klik, bukan kebenaran
Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang salah?”, tetapi:
Apakah kita masih mau bersusah payah mencari kebenaran, atau cukup merasa benar?
Muhasabah di Ujung Zaman Post-Truth
Beberapa waktu lalu, ketika mengikuti kajian dan seminar bersama Ustadz Fahruddin Faiz, saya menangkap satu kegelisahan yang sama: kita hidup di zaman yang ramai, tapi miskin kejernihan. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan justru langka. Banyak orang bicara, sedikit yang benar-benar berpikir.
Generasi hari ini bukan kekurangan data, melainkan kehilangan kedalaman cara pandang. Segalanya serba cepat: cepat percaya, cepat marah, cepat membenci, dan cepat merasa paling benar. Inilah wajah nyata era post-truth—ketika kebenaran tidak lagi dicari, cukup dirasa.
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dengan sangat sederhana namun tegas:
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Hadis ini terasa sangat relevan. Di tengah budaya berbagi tanpa saring, hadis ini seperti cermin yang memantulkan kesalahan kita sendiri. Bukan karena kita ingin berdusta, tetapi karena kita lalai menjaga kebenaran.
Dalam Islam, kebenaran bukan hanya soal benar atau salah, tetapi juga soal amanah. Amanah dalam berpikir, amanah dalam berbicara, dan amanah dalam menyebarkan informasi. Tanpa itu, agama mudah berubah menjadi alat pembenaran emosi, bukan jalan menuju kebijaksanaan.
Maka, berbicara tentang post-truth sejatinya adalah ajakan untuk kembali: kembali belajar pelan-pelan, kembali membaca dengan utuh, kembali merendahkan ego di hadapan kebenaran. Sebab iman tanpa akal melahirkan fanatisme, dan akal tanpa iman melahirkan kekosongan.
Penutup
Menulis tentang post-truth bukan untuk menyalahkan generasi muda semata, tetapi sebagai muhasabah bersama. Jika hari ini cara pandang banyak orang terasa hancur, mungkin karena kita terlalu lama membiarkan emosi menggantikan nalar, dan opini menggantikan kebenaran.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat, bahwa di tengah kebisingan zaman, menjadi manusia yang berpikir jernih adalah bentuk ibadah. Karena kebenaran memang tidak selalu viral, tetapi tanpanya, kita akan kehilangan arah.
Tulisan ini disusun sebagai refleksi pribadi, terinspirasi dari kajian filsafat dan keislaman, dengan harapan menjadi pengingat bagi diri sendiri dan siapa pun yang masih ingin menjaga akal dan iman tetap waras di era post-truth.
Abunabil Syafrawadi

Posting Komentar untuk "Menjaga Akal dan Iman di Era Post-Truth"