![]() |
| Bumi adalah amanah, pekerjaan adalah ujian, dan ibadah adalah penopang ketika satu diabaikan, yang lain pun goyah. |
Allah ﷻ telah mengingatkan manusia sejak lama bahwa bumi bukan sekadar tempat mengambil, melainkan amanah yang harus dijaga:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS. Ar-Rum: 41)
Di sisi lain, aktivitas yang jelas merusak alam seperti tambang emas ilegal justru kian marak. Ini tentu wilayah penegak hukum. Namun sebagai manusia, terlebih sebagai khalifah di bumi, kita punya hak dan kewajiban moral untuk mengingatkan dan menyampaikan bahwa kerusakan alam bukan perkara sepele. Bukan karena iri, bukan karena benci kepada sesama, melainkan karena cinta pada bumi yang kita tempati bersama. Semoga kegelisahan ini tidak disalahpahami.
Allah ﷻ berfirman tentang amanah manusia di muka bumi:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”(QS. Al-Baqarah: 30)
Fenomena lain yang tak kalah nyata adalah membludaknya minat terhadap pekerjaan berseragam resmi negara: pegawai kantor pemerintah, guru, dan sejenisnya. Terlebih dengan adanya skema PPPK, antusiasme masyarakat melonjak tajam. Sekali lagi, ini bukan kritik personal kepada siapa pun, melainkan sebuah renungan bersama. Ketika suatu posisi diperebutkan hanya karena jaminan ekonomi, tanpa kesiapan dan kapasitas yang memadai, maka dampaknya perlahan akan terasa.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa kehancuran suatu urusan terjadi ketika ia diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Terlebih profesi guru, sebuah peran strategis dalam membentuk pondasi karakter anak bangsa. Di lembaga formal, guru adalah perancang masa depan generasi, tentu setelah peran utama orang tua di rumah. Tugas ini tidak ringan, tidak sederhana, dan tidak bisa dipandang sebelah mata.
Allah ﷻ meninggikan derajat ilmu dan para pendidik:
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS. Al-Mujādilah: 11)
Guru MDTA, guru mengaji di surau, mushalla, dan TPA pun sejatinya memegang peran besar. Selama ini mungkin mereka dianggap “biasa saja”, padahal mari kita renungkan: agama ini sampai kepada kita melalui siapa, kalau bukan melalui para pendidik yang tulus? Maka mendidik, dalam Islam, bukan sekadar soal ijazah S1 atau titel akademik, tetapi soal kapasitas, akhlak, keteladanan, dan tanggung jawab.
Allah ﷻ mengingatkan bahwa ilmu harus disertai akhlak dan amanah:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”(QS. Al-Isrā’: 36)
Ketika profesi guru hanya menjadi ladang pekerjaan, bukan ladang pengabdian, maka pelan-pelan kita akan menuai krisis: kualitas pendidikan menurun, karakter generasi rapuh, dan negara pun terbebani secara sistemik. Mengapa ini terjadi? Kita boleh berbeda pandangan, tetapi mata dan akal kita tidak bisa menutup diri dari realitas.
Dari semua fenomena ini, barangkali kita perlu sejenak berhenti dan merenung: bagaimana Rasulullah ﷺ mengatur penghidupan umatnya? Salah satu teladan nyata adalah beliau berdagang, berbisnis, membangun kemandirian ekonomi dengan cara yang halal, jujur, dan bermartabat. Contoh itu jelas, terbuka, dan relevan sepanjang zaman.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”(QS. Al-Qashash: 77)
Lalu mengapa kita begitu enggan meneladani jalan itu? Mengapa orientasi hidup kita semakin sempit, seolah keselamatan hanya ada pada satu jalur pekerjaan tertentu?
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan, apalagi merendahkan. Ini hanyalah ajakan muhasabah—agar kita kembali menata niat, memperluas cara pandang, menjaga alam, memuliakan profesi, dan meneladani Rasulullah ﷺ dalam membangun kehidupan yang seimbang: antara dunia dan akhirat.
Semoga Allah membimbing kita semua.

Posting Komentar untuk "Muhasabah dan Kepekaan Sosial : Ketika Alam Terluka dan Arah Hidup Menyempit"