Saya ikut miris melihat kondisi bangsa hari ini.
Ada anak yang bunuh diri karena tekanan hidup.
Ada yang masuk rumah sakit karena program yang seharusnya menyejahterakan.
Ada rakyat bersuara, mahasiswa turun, BEM bergerak, ormas menyampaikan pendapat, dan itu masih dalam satu negara yaitu : Indonesia.
Namun sering kali, suara itu terasa seperti dilawan.
Yang mengkritik dianggap mengganggu.
Yang menyindir dianggap melawan.
Yang bertanya dianggap tidak beradab.
Padahal negeri ini berdiri bukan hanya oleh penguasa, tapi oleh rakyat yang pajaknya juga menjadi bagian dari berjalannya pemerintahan.
Lalu saya teringat pada satu sosok besar dalam sejarah Islam :
Umar bin Khattab.
Umar dan Rasa Takutnya pada Tanggung Jawab
Ketika beliau menjadi khalifah, kepemimpinannya bukan tentang kekuasaan, tapi tentang amanah.
Ada satu ungkapan yang sangat masyhur dari beliau:
“Seandainya ada seekor keledai yang terperosok di Irak, aku khawatir Allah akan menanyakan kepadaku, mengapa tidak engkau ratakan jalan untuknya, wahai Umar?”
Lihatlah betapa dalam rasa tanggung jawab itu.
Musibah terjadi beliau tidak mencari siapa yang salah.
Beliau tidak berkata, “Itu bukan urusan saya.”
Beliau tidak menyalahkan rakyatnya.
Justru beliau bertanya:
Apa dosaku sebagai pemimpin sehingga ini terjadi ?
Inilah jiwa pemimpin sejati:
Bukan alergi kritik, tapi takut pada hisab.
Kritik Itu Pahit, Tapi Obat
Dalam Islam, amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban bersama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Agama itu nasihat.”
Nasihat tidak selalu lembut.
Kritik tidak selalu manis.
Kadang memang menyinggung—karena ia menyebut kenyataan.
Namun bukankah kenyataan memang sering kali menyakitkan?
Kalau rakyat bersuara karena ada yang salah,
maka yang bijak bukan membungkam,
tapi bercermin.
Adab Bicara dan Adab Mendengar
Hari ini sering kita dengar:
“Jaga etika.”
“Jaga adab.”
Benar, adab itu penting.
Namun adab bukan hanya milik rakyat kepada pemimpin.
Adab juga milik pemimpin kepada rakyatnya.
Adab bukan hanya tentang cara berbicara,
tapi juga tentang cara mendengar.
Jika kritik selalu dianggap penghinaan,
lalu di mana ruang perbaikan?
Antara Kekuasaan dan Amanah
Kekuasaan tanpa rasa takut kepada Allah akan melahirkan kesombongan.
Namun kekuasaan yang disertai kesadaran hisab akan melahirkan kerendahan hati.
Umar bin Khattab pernah berkata,
“Tidak ada kebaikan pada kalian jika kalian tidak mengatakan yang benar kepada kami, dan tidak ada kebaikan pada kami jika kami tidak mau mendengarnya.”
Inilah peradaban.
Bukan rakyat yang selalu salah.
Bukan pemimpin yang selalu benar.
Semua akan berdiri di hadapan Allah dengan tanggung jawab masing-masing.
Refleksi untuk Kita Semua
Artikel ini bukan untuk menghasut.
Bukan untuk membenci.
Tapi untuk mengingatkan—bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah amanah yang sangat berat.
Jika ada anak bangsa yang putus asa,
jika ada kebijakan yang melukai,
jika ada suara yang dibungkam,
maka mari kita semua—baik rakyat maupun pemimpin—kembali pada nilai:
✔ Rendah hati
✔ Mau dikritik
✔ Siap bertanggung jawab
✔ Takut pada hisab, bukan pada opini
Karena sejarah telah memberi contoh.
Dan contoh itu bernama Umar.
Semoga negeri ini diberi pemimpin yang takut kepada Allah,
dan rakyat yang tetap beradab dalam menyuarakan kebenaran.
Aamiin.

Posting Komentar untuk "Ketika Kritik Dianggap Ancaman: Belajar dari Kepemimpinan Umar bin Khattab"