Dari Cahaya Ilmu Menuju Riuh Hura-Hura. Refleksi Arah Peradaban Umat di Awal Islam dan Zaman Kini

(Bagian 2 dari 3 tulisan

Ketika Budaya Dijadikan Alasan, dan Kegembiraan Kehilangan Arah

 Dalam banyak perbincangan hari ini, pembenaran terhadap berbagai bentuk perayaan—termasuk pergantian tahun—sering kali berhenti pada satu kata kunci: budaya. Sebagian mengatakan, “Ini hanya tradisi,” sebagian lain menambahkan, “Sekadar hiburan, bukan ibadah.” Seolah dengan itu, semua pertanyaan menjadi selesai.

 

Padahal, dalam sejarah Islam, tidak ada satu pun konsep yang dibiarkan berjalan tanpa ditimbang nilai dan dampaknya.

 Budaya Tidak Pernah Netral

 Budaya bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Ia adalah hasil dari cara pandang suatu peradaban terhadap hidup, waktu, dan tujuan manusia. Karena itu, budaya selalu membawa nilai, meski sering kali tidak disadari.

 Islam datang bukan untuk meniadakan seluruh budaya, tetapi untuk menyaring dan meluruskannya. Budaya yang sejalan dengan tauhid dipelihara, yang merusak adab ditinggalkan, dan yang berpotensi menggeser nilai perlahan-lahan diarahkan.

 Maka, pertanyaan pentingnya bukan:

“Apakah ini budaya?”

Melainkan :

“Budaya ini membentuk manusia seperti apa?”

 Kegembiraan yang Dibingkai Peradaban

Islam tidak mematikan kegembiraan. Rasulullah tersenyum, bercanda, dan memberi ruang bagi kebahagiaan yang sehat. Namun kegembiraan dalam Islam selalu berada dalam bingkai makna dan tanggung jawab.

 Berbeda dengan kegembiraan modern yang sering kali dilepaskan dari arah hidup. Waktu dihabiskan hanya untuk merayakan pergantian angka, tanpa refleksi apa yang sudah dilakukan, apa yang akan diperbaiki, dan ke mana hidup ini hendak dibawa.

 Di sinilah kegembiraan berubah fungsi: bukan lagi menyegarkan jiwa, tetapi mengalihkan dari perenungan.

 Mengapa Islam Sangat Menjaga Waktu

 Al-Qur’an berulang kali bersumpah dengan waktu: fajar, siang, malam, bahkan usia manusia. Ini menunjukkan bahwa waktu bukan sekadar latar kehidupan, tetapi substansi ujian itu sendiri.

 Generasi awal Islam memandang waktu sebagai modal utama. Mereka tidak menunggu momen tahunan untuk berubah, karena perubahan adalah proses harian. Tidak ada tradisi begadang tanpa tujuan, karena malam adalah ruang sunyi untuk mendekat dan berpikir.

 Ketika umat mulai ringan menyia-nyiakan waktu, sesungguhnya yang hilang bukan hanya produktivitas, tetapi kepekaan ruhani dan intelektual.

 Antara Ikut Arus dan Menjaga Arah

Banyak yang ikut merayakan karena alasan sederhana: agar tidak dianggap ketinggalan, agar tidak berbeda, atau karena semua orang melakukannya. Di sinilah tantangan umat di setiap zaman: berani berpikir sebelum mengikuti.

 Islam sejak awal membentuk pribadi yang tidak tunduk pada mayoritas semata, tetapi pada kebenaran dan kebijaksanaan. Ukuran baik dan buruk tidak ditentukan oleh ramai atau sepi, melainkan oleh nilai yang dikandungnya.

 Bukan berarti semua yang populer pasti salah, tetapi semua yang populer wajib diuji.

 Refleksi untuk Umat Hari Ini

 Tulisan ini tidak mengajak menjauhi manusia, tetapi mengajak kembali pada kesadaran. Bahwa setiap kebiasaan yang kita rawat, perlahan akan membentuk karakter. Dan karakter, dalam jangka panjang, akan menentukan arah peradaban.

 Jika umat Islam hari ini ingin kembali berbicara tentang kebangkitan, maka pertanyaan pertama bukan tentang teknologi atau kekuatan ekonomi, melainkan: bagaimana kita memuliakan ilmu dan waktu dalam kehidupan sehari-hari.

 Peradaban tidak runtuh karena kurang hiburan, tetapi karena kehilangan orientasi.

 Masih ada satu pertanyaan penting yang belum disentuh: bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi momen-momen semacam ini secara praktis tanpa terjebak pada sikap ekstrem, tetapi juga tanpa larut dalam arus?

 Pada tulisan terakhir serial ini, kita akan membahas jalan tengah yang jernih: bagaimana memaknai akhir tahun sebagai ruang muhasabah, bukan pesta; sebagai titik evaluasi, bukan euforia; dan sebagai peluang mendekat, bukan menjauh dari tujuan hidup.

 Bersambung ke Bagian 3

 

 

Posting Komentar untuk "Dari Cahaya Ilmu Menuju Riuh Hura-Hura. Refleksi Arah Peradaban Umat di Awal Islam dan Zaman Kini"