Ketika Tanah Ambles, Akal Ikut Turun?

Fhoto sebagai Ilustrasi
Catatan kecil untuk generasi yang sedang me
ncari makna

Belakangan ini, jagat media sosial ramai membicarakan sinkhole (tanah amblas) di Limapuluh Kota. Ada yang melihatnya sebagai peristiwa geologi, ada juga yang melihatnya sebagai “isyarat alam”, bahkan tak sedikit yang mengaitkannya dengan hal-hal mistik.

Yang bikin senyum-senyum miris, justru sebagian anak muda terlihat lebih yakin pada air misterius yang belum jelas kandungannya, daripada bertanya: ini aman atau tidak untuk tubuh saya?

Padahal, kalau tubuh bisa kena maag karena telat makan, masa akidah dibiarkan minum apa saja tanpa dicek?

Dulu, Sebelum Islam Datang, Manusia Juga Sering Bingung

Jujur saja, percaya pada hal mistik itu bukan tren baru. Jauh sebelum Islam hadir, manusia memang sedang meraba-raba kebenaran.

Di Yunani Kuno, sebagian filsuf percaya bahwa alam dikendalikan oleh unsur gaib.  Gempa? Murka dewa.  Gunung meletus? Dewa sedang marah.

  • Thales, misalnya, pernah menyimpulkan bahwa air adalah asal dari segala sesuatu. Menarik, tapi belum tentu benar. Kalau air selalu suci dan menyelamatkan, kenapa orang bisa tenggelam ?

  • Plato dan Aristoteles mencoba mencari kebenaran lewat akal. Mereka hebat, tapi tetap tersandung satu masalah: akal tanpa wahyu sering lelah di tengah jalan.
  • Dan di Nusantara sebelum Islam, masyarakat mengenal penunggu gunung, roh air, pohon keramat.

Air tertentu dipercaya bisa menyembuhkan segalanya tanpa pernah bertanya: isinya apa? bakteri atau berkah?

Islam Datang Bukan untuk Mematikan Akal, Tapi Menertibkannya

Islam tidak datang dengan slogan “jangan berpikir”.

Justru sebaliknya: “gunakan akal, tapi jangan menyembahnya.”

Ketika terjadi peristiwa alam :

Islam mengajarkan sebab-akibat (sunnatullah)

sekaligus makna dan peringatan, tanpa berlebihan

Tanah amblas?

➡️ Ada faktor geologi, air tanah, struktur bumi.

➡️ Bukan berarti ada “makhluk halus lapar sesajen”.

Air ?

➡️ Islam menyuruh menjaga kesehatan, menimbang maslahat dan mudarat.

➡️ Bukan asal viral, lalu diminum demi “energi alam”.

Rasulullah ﷺ saja pernah menegur sahabat yang berlebihan menafsirkan tanda-tanda alam tanpa ilmu.

Milenial dan Gen Z : Kritis di Gadget, Tapi Kadang Lengah di Akidah

Ironisnya, kita hidup di zaman :

bisa cek kandungan makanan lewat Google

bisa bandingkan harga lewat marketplace

tapi untuk urusan keyakinan, kadang cukup kata “katanya”

Padahal, iman itu bukan ikut-ikutan, dan Islam tidak pernah mengajarkan:

“Kalau ramai berarti benar.”

Kalau begitu, konser juga benar dong?

Sinkhole: Peringatan, Bukan Pemujaan

Peristiwa sinkhole bisa jadi peringatan:

>>agar manusia tidak rakus pada alam

>>agar kita sadar bumi bukan barang dagangan

>>agar kita kembali pada Allah, bukan pada air yang belum tentu steril

Islam mengajarkan:

takutlah hanya kepada Allah,

berharaplah hanya kepada Allah,

dan jangan menaruh keyakinan pada benda.

Air hanyalah air.

Tanah hanyalah tanah.

Yang Maha Kuasa bukan di dalamnya, tapi yang menciptakannya.

Untuk kita semua 

Mencari makna itu wajar.

Penasaran itu manusiawi.

Tapi jangan sampai rasa ingin tahu menenggelamkan iman.

Kalau akal mulai bingung, wahyu itu pelita.

Kalau hati mulai goyah, tauhid itu jangkar.

Dan ingat,

> Islam tidak melarang kita kagum pada alam,

> tapi melarang kita sujud kepadanya.


Wallahu alam bishawab

Posting Komentar untuk "Ketika Tanah Ambles, Akal Ikut Turun?"