![]() |
| Animasi hanya Ilustrasi, bukan berarti gambar sebenarnya |
Julaibib radhiyallāhu ‘anhu adalah seorang sahabat Nabi ﷺ yang dalam ukuran sosial hampir tidak bernilai: tidak dikenal nasabnya, tidak berharta, dan tidak menarik rupa. Ia hidup di pinggir perhatian manusia, bahkan kerap diremehkan. Namun Rasulullah ﷺ—dengan adab dan tawadhu’ yang sempurna—melihat sesuatu yang sering luput dari pandangan kita: iman yang jujur dan hati yang bersih. Dari sosok inilah Islam mengajarkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh tampilan dan pengakuan, melainkan oleh ketakwaan. Dan justru melalui Julaibib, kita diajak bercermin tentang adab yang hilang dan kesombongan yang tumbuh di tengah umat hari ini.
Di tengah zaman ketika kemuliaan sering diukur dari penampilan, popularitas, dan pengaruh, kisah Julaibib radhiyallāhu ‘anhu hadir sebagai koreksi keras. Ia bukan tokoh besar menurut standar manusia, tetapi dimuliakan oleh Rasulullah ﷺ dan diangkat derajatnya oleh Allah. Kisahnya bukan sekadar cerita haru, melainkan kritik sosial hidup terhadap runtuhnya adab dan tawadhu’ di tengah umat.
Standar Kemuliaan: Manusia vs Allah
Allah menegaskan standar kemuliaan yang tidak pernah berubah:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurāt: 13)
Namun realitas hari ini menunjukkan sebaliknya. Yang dipandang tinggi adalah yang viral, yang punya jabatan, yang lantang berbicara, meski adabnya rapuh. Sebaliknya, yang sederhana, diam, dan tidak punya “nama” sering diabaikan, bahkan diremehkan. Di sinilah Julaibib berdiri sebagai bantahan.
Adab Rasulullah ﷺ dan Cermin Buruk Kita
Rasulullah ﷺ manusia paling mulia bersikap tawadhu kepada Julaibib. Beliau memikirkan masa depannya, melamarkannya, mencarikannya pasangan, dan mencintainya. Padahal, jika Rasulullah ﷺ ingin bersikap elitis, beliau bisa saja memilih orang-orang terpandang.
Justru manusia setelahnya yang sering terbalik :
sedikit ilmu merasa tinggi, sedikit amanah merasa berkuasa, dan sedikit pengikut merasa paling benar.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. Tirmidzi)
Adab tidak diukur dari gelar atau posisi, tetapi dari cara memperlakukan orang lain, terutama yang lemah.
Pernikahan Julaibib: Tawadhu’ yang Mengalahkan Tradisi
Ketika keluarga Anshar ragu menikahkan putrinya dengan Julaibib, alasan utamanya bukan agama, melainkan status sosial. Inilah penyakit lama yang masih hidup hingga kini: kebaikan dikalahkan oleh gengsi.
Namun sang wanita menunjukkan adab sejati dengan berkata:
“Apakah kalian menolak perintah Rasulullah?”
Sikap ini sejalan dengan firman Allah:
“Tidaklah patut bagi seorang mukmin dan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada pilihan lain bagi mereka.” (QS. Al-Ahzāb: 36)
Tawadhu’ sejati adalah tunduk pada kebenaran, meski bertabrakan dengan selera dan kebiasaan.
Syahidnya Julaibib dan Kemuliaan yang Membungkam
Dalam peperangan, Julaibib gugur sebagai syahid. Rasulullah ﷺ mencarinya, menggendong jasadnya, dan bersabda:
“Dia dariku, dan aku darinya.” (HR. Muslim)
Kalimat ini adalah penghormatan tertinggi. Orang yang diremehkan manusia justru dipeluk kehormatan oleh Rasulullah ﷺ.
Hari ini, seharusnya kita bertanya pada diri sendiri :
>>> Berapa banyak “Julaibib” di sekitar kita yang diabaikan?
>>> Berapa banyak orang shalih yang tersingkir karena tidak pandai menonjolkan diri?
>>> Dan berapa banyak yang merasa berilmu, tetapi kehilangan adab?
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu’, sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri atas yang lain.” (HR. Muslim)
Teladan yang "Menyakitkan Ego"
Kisah Julaibib tidak nyaman bagi orang yang merasa mulia. Ia membongkar kepalsuan standar sosial dan memaksa kita bercermin. Adab tidak lahir dari panggung, tawadhu’ tidak tumbuh dari pujian, dan kemuliaan tidak bergantung pada pengakuan manusia.
Boleh jadi, di zaman ini, Allah kembali memuliakan mereka yang tidak dianggap—sementara yang merasa tinggi justru diuji dengan hilangnya adab.
Dan di situlah Julaibib berdiri, bukan sebagai legenda masa lalu, tetapi sebagai kritik tajam untuk kita hari ini.
Wallahualam bishawab

Posting Komentar untuk "Julaibib : Teladan Adab dan Tawadhu’ yang Menampar Zaman Ini"