![]() |
| Gambar hanya ilustrasi |
Shalat Jumat kali ini 30/01/26 di Masjid Kecamatan Benai terasa berbeda. Bukan semata karena ramainya jamaah, tetapi karena pesan-pesan iman yang terasa menyatu antara mimbar dan mihrab.
Petugas Jumat:
Khatib : Ravi Usman, M.Pd
Imam : Ustadz Febrian Elbirri, Lc
Muazin : Sudarsono
Sejak awal, suasana masjid sudah terasa tenang dan khusyuk. Namun yang benar-benar mengetuk hati adalah ketika imam membacakan Surat Al-An‘am ayat 27 sampai 33. Bacaan yang tertib dalam tahsin dan tajwid, dilantunkan dengan penuh penghayatan, membuat jamaah seolah diajak melihat gambaran akhirat secara nyata. Ditambah penjelasan makna ayatnya, suasana shalat terasa semakin haru dan dalam.
Ayat-Ayat Penyesalan yang Menggugah Jiwa
QS. Al-An‘am: 27–33
وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا۟ عَلَى ٱلنَّارِ فَقَالُوا۟ يَـٰلَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔايَـٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ*(27)*
“Dan jika kamu melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.’”
بَلْ بَدَا لَهُم مَّا كَانُوا۟ يُخْفُونَ مِن قَبْلُ ۖ وَلَوْ رُدُّوا۟ لَعَادُوا۟ لِمَا نُهُوا۟ عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَـٰذِبُونَ *(28)*
“Tetapi telah nyata bagi mereka apa yang dahulu mereka sembunyikan. Sekiranya mereka dikembalikan (ke dunia), niscaya mereka akan mengulangi apa yang telah dilarang kepada mereka. Sungguh, mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.”*
وَقَالُوٓا۟ إِنْ هِىَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ*(29)*
“Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini hanyalah kehidupan dunia saja, dan kami tidak akan dibangkitkan.’”
وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذْ وُقِفُوا۟ عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ قَالَ أَلَيْسَ هَـٰذَا بِٱلْحَقِّ ۚ قَالُوا۟ بَلَىٰ وَرَبِّنَا ۚ قَالَ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ(30)*
“Dan jika kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhan mereka. Dia berfirman, ‘Bukankah ini benar?’ Mereka menjawab, ‘Benar, demi Tuhan kami.’ Dia berfirman, ‘Maka rasakanlah azab, karena kamu dahulu ingkar.’”*
قَدْ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتْهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا۟ يَـٰحَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ ظُهُورِهِمْ ۚ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ(31)
“Sungguh rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah. Ketika hari Kiamat datang secara tiba-tiba, mereka berkata, ‘Alangkah besar penyesalan kami atas kelalaian kami,’ sementara mereka memikul dosa-dosa di atas punggung mereka. Sungguh amat buruk apa yang mereka pikul.”*
وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ ٱلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ**(32)
“Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”
قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُۥ لَيَحْزُنُكَ ٱلَّذِى يَقُولُونَ ۖ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَـٰكِنَّ ٱلظَّـٰلِمِينَ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ يَجْحَدُونَ**(33)*
“Sungguh, Kami mengetahui bahwa ucapan mereka itu menyedihkan hatimu. Mereka sebenarnya bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.”
Ayat-ayat ini menggambarkan penyesalan manusia ketika kebenaran sudah nyata, namun kesempatan kembali telah tertutup. Sebuah peringatan lembut namun tegas agar kita tidak menunda taubat.
Malu: Akhlak yang Menjaga Iman
Dalam khutbahnya, khatib mengangkat satu tema utama: malu.
Bukan malu kepada manusia, tetapi malu kepada Allah.
* Malu jika tidak memakmurkan masjid
* Malu mengucapkan kata-kata kotor
* Malu jika tangan ini memegang yang tidak halal
* Malu jika mata ini melihat yang dilarang
* Malu jika anggota tubuh digunakan untuk maksiat
Malu seperti inilah yang dahulu menjadi perhiasan iman. Ketika rasa malu hilang, batas dosa pun menjadi samar.
Berkata Baik atau Diam
Khatib mengingatkan sabda Rasulullah ﷺ:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika para sahabat bertanya, “Siapakah Muslim terbaik, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Yaitu orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
Dari Lisan ke Jari : Dosa Zaman Kini
Jika dahulu manusia menyakiti dengan mulut, hari ini banyak kegaduhan lahir dari jari-jari tangan kita :
* tulisan yang kasar,
* komentar yang menyulut emosi,
* berita yang dibagikan tanpa tabayun,
* unggahan yang melukai hati orang lain.
Apa yang ditulis mungkin singkat, namun dampaknya panjang, dan dosanya bisa terus mengalir.
Jumat ini saya pulang dengan satu pelajaran penting:
iman bukan hanya dijaga di masjid, tetapi juga di lisan dan di jari jemari.
Ayat-ayat Al-An‘am mengingatkan tentang penyesalan di akhirat.
Khutbah Jumat mengingatkan agar kita berhati-hati di dunia.
Semoga Allah menjaga kita
dari lisan yang menyakiti,
dari jari yang menyesatkan,
dan dari hilangnya rasa malu dalam diri.
Aamiin.

😎
BalasHapus