Dulu, sebelum dunia serba cepat seperti hari ini, teknologi hadir dengan cara yang sederhana namun berkesan.
Kita mengenal radio, yang suaranya menemani pagi dan malam, menjadi sumber berita dan hiburan keluarga.
Ada tape recorder, tempat suara direkam, diputar ulang, dan disimpan sebagai kenangan.
Lalu kamera analog, yang setiap jepretannya begitu berharga, karena tidak bisa diulang sesuka hati.
Televisi pun hadir, hitam putih hingga berwarna, menjadi pusat perhatian di ruang keluarga.
Waktu berjalan, teknologi terus melangkah.
Tape recorder tergeser oleh format digital.
Radio perlahan kalah pamor oleh aplikasi streaming.
Kamera analog menjadi “barang langka” setelah kamera digital dan ponsel canggih hadir.
Televisi pun kini bersaing dengan layar kecil di genggaman tangan : handphone.
Inilah hukum kemajuan:
setiap kemajuan hampir selalu melahirkan korban.
Bukan karena yang lama tidak berguna, tetapi karena yang baru lebih cepat, lebih praktis, dan lebih menarik.
Namun di sinilah manusia diuji.
Apakah kita hanya menjadi penonton perubahan, atau justru pengendali teknologi ?
Kemajuan teknologi adalah nikmat.
Ia memudahkan komunikasi, mempercepat pekerjaan, dan membuka akses ilmu tanpa batas.
Tetapi nikmat akan berubah menjadi masalah ketika kita latah,
mengikuti semua tren tanpa arah,
menelan semua yang baru tanpa saring.
Maka sikap yang tepat bukan menolak kemajuan,
dan bukan pula menyembah teknologi.
Melainkan bersyukur, bijak, dan sadar batas.
Gunakan teknologi untuk kebaikan.
Ambil manfaatnya, tinggalkan mudaratnya.
Biarkan teknologi maju,
tetapi jangan sampai nilai kemanusiaan mundur.
Karena sejatinya,
bukan teknologi yang menentukan masa depan manusia,
melainkan cara manusia memperlakukan teknologi itu sendiri.
@Tinta Peradaban

Posting Komentar untuk "Kemajuan Teknologi dan Sikap Manusia"